TANGSELIFE.COM- Nama HYBE Labels kembali ramai diperbincangkan publik setelah isu lama terkait akuisisi Ithaca Holdings mencuat kembali ke permukaan.

Perusahaan hiburan raksasa asal Korea Selatan itu dituding menggunakan dana internal, yang sebagian besar bersumber dari pendapatan BTS, untuk melunasi utang besar dalam proses ekspansi globalnya.

Isu ini kembali menghangat pada awal Januari 2026, menyusul viralnya sebuah artikel investigatif dari media NewTamsa di platform X.

Laporan tersebut memicu diskusi luas mengenai transparansi keuangan HYBE Labels, terutama soal penggunaan pendapatan BTS pada periode sebelum grup tersebut menjalani wajib militer.

Akuisisi Ithaca Holdings yang Jadi Titik Awal Polemik HYBE Labels

Pada April 2021, HYBE, yang kala itu masih bernama Big Hit Entertainment, mengumumkan merger strategis dengan Ithaca Holdings, perusahaan milik Scooter Braun.

Nilai kesepakatan awal disebut mencapai lebih dari Rp16 triliun, sekaligus menandai langkah besar HYBE menembus pasar musik Amerika Serikat.

Melalui akuisisi tersebut, HYBE membawahi deretan artis global seperti Justin Bieber, Ariana Grande, hingga Demi Lovato.

Namun, laporan keuangan yang terungkap belakangan menunjukkan bahwa total nilai transaksi sebenarnya mencapai sekitar Rp18 triliun.

Angka tersebut mencakup pengambilalihan utang Ithaca Holdings senilai sekitar Rp1,4 triliun.

Utang ini disebut-sebut berkaitan dengan pinjaman Scooter Braun saat mengakuisisi master rekaman Taylor Swift melalui Big Machine Label Group pada 2019.

Laporan menyebutkan bahwa setelah master rekaman Taylor Swift dijual kembali pada akhir 2020 dengan keuntungan signifikan, para pemegang saham Ithaca membagikan laba tersebut sebagai dividen.

Sementara itu, sisa utang perusahaan tetap tercatat dan kemudian ikut ditanggung HYBE pasca-akuisisi.

Situasi inilah yang kini memicu pertanyaan publik: apakah beban finansial tersebut pada akhirnya ditutup menggunakan dana internal HYBE yang mayoritas bersumber dari BTS?

Pendapatan BTS Jadi Pemicu Reaksi Penggemar

Untuk mendanai akuisisi, HYBE Labels dilaporkan menggunakan sekitar 74 persen cadangan kas perusahaan, ditambah pinjaman baru senilai kurang lebih Rp6,7 triliun.

Pada periode 2020–2021, BTS memang menjadi tulang punggung pendapatan HYBE, lewat tur dunia, penjualan album, hingga merchandise.

Kondisi tersebut memicu kekecewaan sebagian penggemar, yang menilai bahwa pendapatan BTS secara tidak langsung digunakan untuk menutup utang yang tidak berkaitan langsung dengan pengembangan industri K-pop atau aktivitas grup.

Media NewTamsa disebut telah berupaya meminta klarifikasi langsung kepada Chairman HYBE Bang Si Hyuk, namun hingga kini belum ada tanggapan resmi.

Hingga 8 Januari 2026, HYBE belum mengeluarkan pernyataan terbuka menanggapi tudingan terbaru ini.

Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, perusahaan selalu menyebut akuisisi Ithaca sebagai langkah strategis jangka panjang untuk menciptakan sinergi antara K-pop dan pasar musik Barat.

Namun, perjalanan akuisisi tersebut tidak sepenuhnya mulus.

Sejumlah artis besar yang sebelumnya berada di bawah naungan Ithaca, seperti Ariana Grande dan Justin Bieber, kini telah meninggalkan manajemen tersebut.

Selain itu, Scooter Braun resmi mundur dari jabatannya sebagai CEO HYBE America pada Juli 2025, memperkuat spekulasi publik soal efektivitas ekspansi tersebut.

Kontroversi ini muncul di saat publik tengah menaruh harapan besar pada era baru BTS, menyusul rampungnya wajib militer seluruh anggota pada 2025.

Banyak penggemar berharap comeback BTS panggung global juga diiringi dengan transparansi dan tata kelola keuangan yang lebih akuntabel dari HYBE Labels.

Isu ini pun bukan sekadar soal bisnis, melainkan menyentuh hubungan emosional antara artis, perusahaan, dan basis penggemar yang selama ini menjadi kekuatan utama HYBE.

Dapatkan Berita Terbaru lainya dengan Mengikuti Google News Tangselife
Iis Suryani
Editor
Iis Suryani
Reporter