TANGSELIFE.COM- Pemerintah dijadwalkan menetapkan awal puasa 2026 melalui sidang isbat pada 17 Februari 2026.
Keputusan tersebut akan didasarkan pada metode hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.
Penetapan ini selalu dinantikan umat Islam karena menjadi penanda resmi dimulainya bulan suci.
Namun jauh sebelum pengumuman resmi itu tiba, masyarakat di berbagai daerah sudah lebih dulu disibukkan dengan beragam tradisi jelang Ramadan yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi jelang Ramadan bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momen penting untuk membersihkan diri, mempererat silaturahmi, serta memanjatkan doa agar ibadah puasa berjalan lancar dan penuh berkah.
Setiap daerah memiliki tradisi jelang Ramadan dengan ciri khas masing-masing.
Ada yang diwujudkan melalui doa bersama, ziarah makam leluhur, makan bersama, hingga ritual adat yang sarat nilai budaya dan spiritual.
Keberagaman ini menjadi bukti bahwa Ramadan di Indonesia bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga perayaan budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
15 Tradisi Jelang Ramadan di Indonesia
Berikut 15 tradisi jelang Ramadan yang masih dilestarikan di sejumlah daerah di Indonesia, yakni:
1. Assuro Maca (Sulawesi Selatan)

Tradisi jelang Ramadan yang pertama berasal dari masyarakat Bugis-Makassar ini berupa doa bersama yang dilakukan sehari sebelum puasa.
Warga berkumpul sambil menyantap hidangan khas yang disajikan di atas nampan besar (kappara’a).
Selain bersyukur atas rezeki, momen ini menjadi ajang mempererat kebersamaan.
2. Baratan (Jepara, Jawa Tengah)

Digelar saat malam Nisfu Syaban, Baratn diisi kirab warga membawa lampion dan doa bersama memohon keselamatan selama Ramadan.
Tradisi ini sarat nilai gotong royong dan menjadi identitas budaya maysrakat Jepara.
3. Dandangan di Kudus
Dandangan merupakan pasar malam yang digelar di sekitar Menara Kudus menjelang Ramadan.
Nama ini berasal dari bunyi “ndang” bedug yang ditabuh sebagai tanda ajakan berkumpul.
Tradisi ini menjadi momen warga mendengarkan pengumuman awal Ramadan sekaligus meramaikan suasana menyambut bulan suci.
4. Mattunu Solong
Di Sulawesi Barat, masyarakat menyalakan Mattunu Solong, yakni cahaya dari buah kemiri dan bambu yang dipasang di sekitar rumah.
Cahaya tersebut melambangkan doa agar diberi kesehatan, umur panjang, dan kekuatan menjalankan puasa.
5. Megibung di Bali
Tradisi jelang Ramadan selanjutnya adalah tradisi Umat Islam di Bali, yang menjalankan tradisi Megibung dengan memasak dan makan bersama dari satu wadah besar.
Kegiatan ini menegaskan nilai persaudaraan dan kebersamaan, biasanya dilakukan sebelum Ramadan dan pada malam-malam tertentu selama bulan puasa.
6. Malamang atau Membuat Lemang
Di Sumatra Barat dan Aceh, masyarakat membuat lemang atau malamang sebagai tradisi jelang Ramadan.
Makanan ini kemudian dibagikan kepada tetangga dan kerabat sebagai simbol kebersamaan serta ungkapan syukur.
7. Munggahan
Suku Sunda memiliki tradisi Munggahan yang berarti “naik” atau bersiap menuju fase baru.
Biasanya diisi dengan makan bersama, saling meminta maaf, dan memperbaiki hubungan sebelum memasuki Ramadan.
8. Nyorog Betawi
Tradisi Nyorog dilakukan dengan mengantarkan makanan kepada kerabat yang lebih tua sehari sebelum puasa.
Ritual ini menjadi wujud penghormatan serta cara menjaga silaturahmi dalam keluarga besar.
9. Padusan
Di Yogyakarta dan Jawa Tengah, masyarakat melakukan Padusan, yaitu mandi atau berendam di sumber mata air.
Tradisi ini melambangkan penyucian diri lahir dan batin sebelum menjalani ibadah puasa.
10. Tabuh Bedug
Penabuhan bedug menjadi penanda khas menyambut Ramadan di sejumlah daerah di Pulau Jawa.
Tradisi ini biasanya dilakukan sehari sebelum puasa dimulai, diiringi lantunan sholawat yang menggema.
11. Mandi Pangir atau Marpangir
Di Sumatera Utara, masyarakat melakukan mandi pangir menggunakan campuran bahan alami seperti sereh, jeruk purut, pandan, dan akar-akaran.
Ritual ini diyakini membersihkan tubuh sekaligus hati agar lebih siap menjalani Ramadan.
12. Megengan di Jawa Timur
Megengan berasal dari kata “menahan” yang mengingatkan bahwa bulan puasa segera tiba.
Tradisi jelang Ramadan ini diisi dengan ziarah makam leluhur, doa bersama, hingga kenduri atau selamatan dengan membagikan makanan kepada tetangga.
Nilai spiritual dan rasa hormat kepada leluhur sangat terasa dalam tradisi ini.
13. Nyandran
Nyandran di Jawa Tengah dilakukan dengan membersihkan makam leluhur secara gotong royong.
Rangkaian acara mencakup kirab, doa bersama, serta prosesi adat yang sarat makna penghormatan dan keyakinan spiritual.
14. Perlon Unggahan di Banyumas
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Warga berziarah tanpa alas kaki sambil membawa nasi ambeng sebagai simbol ketulusan.
Setelah doa bersama, masyarakat makan bersama hidangan tradisional yang diyakini membawa keberkahan.
15. Pisowanan di Banyumas
Pisowanan dilakukan dengan mengunjungi makam orang tua atau leluhur sebelum Ramadan.
Kegiatan dilanjutkan dengan kenduri dan pembagian makanan sebagai bentuk syukur dan doa agar puasa berjalan lancar.
Keberagaman tradisi jelang Ramadan di Indonesia menunjukkan betapa kuatnya nilai budaya dan religius yang hidup di tengah masyarakat.
Dari Sabang hingga Merauke, tradisi-tradisi ini menjadi cara unik setiap daerah dalam menyambut bulan suci dengan penuh persiapan, harapan, dan kebersamaan.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang merawat hubungan, membersihkan hati, dan menjaga warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.


