TANGSELIFE.COM- Dalam orasi ilmiah wisuda Sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Muslim Asia Afrika, Guru Besar UIN Jakarta Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie menegaskan bahwa status sebagai alumni membawa tanggung jawab moral yang tidak ringan.

Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak akan diuji lewat transkrip nilai, melainkan melalui kejujuran, sikap, dan konsistensi hidup setelah lulus.

Guru Besar UIN Jakarta ini menilai, banyak sarjana yang cemerlang secara akademik justru tergelincir ketika berhadapan dengan realitas dunia kerja dan kehidupan sosial. Bukan karena kurang pintar, tetapi karena kehilangan kompas nilai.

Berbeda dari pidato akademik yang normatif dan berjarak, orasi Tholabi menyentuh langsung kegelisahan generasi muda. Ia berbicara tentang rasa takut kalah bersaing, tuntutan untuk cepat sukses, serta dorongan pragmatisme yang kerap mengaburkan idealisme.

Menurutnya, generasi hari ini hidup di dunia yang bergerak sangat cepat, penuh target, dan minim ruang refleksi. Dalam situasi seperti itu, nilai dan prinsip sering kali dianggap sebagai penghambat, bukan sebagai pegangan.

Tholabi menekankan bahwa integritas justru merupakan investasi jangka panjang. Kejujuran dan konsistensi nilai mungkin tidak selalu memberikan keuntungan instan, namun akan menentukan keberlanjutan karier dan reputasi seseorang di masa depan.

“Kejujuran memang tidak selalu menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi ia menyelamatkan masa depan,” ungkapnya di hadapan para wisudawan Sabtu, 10 Januari 2026.

Dalam perspektif ini, sukses tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian materi, tetapi juga sebagai kemampuan menjaga martabat diri di tengah godaan jalan pintas.

Dunia Global Adalah Pertarungan Nilai

Lebih jauh, Tholabi memotret dunia global bukan semata arena adu keterampilan, melainkan medan pertarungan nilai. Mereka yang bertahan dan dipercaya, katanya, bukanlah yang paling licik atau paling oportunis, tetapi yang paling konsisten memegang prinsip.

Ia mengajak para sarjana Muslim untuk tidak merasa rendah diri karena memegang nilai-nilai etik dan keagamaan. Justru di tengah dunia yang serba cair dan bising, nilai menjadi identitas sekaligus kompas moral.

Orasi tersebut akhirnya menjelma menjadi pesan lintas generasi: bahwa masa depan tidak cukup dibangun dengan kecakapan dan gelar akademik semata. Ia membutuhkan keutamaan moral yang memberi makna pada ilmu dan arah pada kehidupan.

Bagi para lulusan, wisuda bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk membuktikan bahwa menjadi sarjana Muslim berarti mewariskan nilai sekaligus menyiapkan masa depan,bagi diri sendiri dan bagi masyarakat luas.

Dapatkan Berita Terbaru lainya dengan Mengikuti Google News Tangselife
Nadia Lisa Rahman
Editor
Nadia Lisa Rahman
Reporter