TANGSELIFE.COM – Warga Kampung Baru Selatan, Kelurahan Pakulonan, Kecamatan Serpong Utara, menggelar aksi protes penolakan wilayahnya yang dijadikan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sementara pada Minggu, 14 Juni 2026.
Warga menyuarakan berbagai keluhan terkait dampak aktivitas TPA sementara yang lokasinya sangat dekat dengan permukiman dan sekolah.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama karena banyak balita dan anak-anak yang tinggal serta beraktivitas di sekitar area tersebut.
Warga Keluhkan Wilayahnya Bau Sampah
Warga mengaku keberadaan TPA sementara itu menimbulkan berbagai persoalan lingkungan, salah satu yang paling dikeluhkan adalah bau tidak sedap setiap hari, tumpukan sampah juga terus bertambah setiap harinya.
Dengan jarak hanya sekitar 10 meter dari permukiman warga, aroma sampah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Warga bahkan menyebut bau dapat tercium hingga sekitar 3 kilometer dari lokasi penampungan.
Aktivitas truk pengangkut sampah yang keluar masuk kawasan juga menjadi keluhan masyarakat.
arga menilai kendaraan tersebut membuat kondisi jalan menjadi kotor dan bau.
TPA Sementara di Pakulonan Serpong Berdampingan dengan Sekolah
Kekhawatiran warga semakin besar karena lokasi TPA berada di kawasan padat penduduk yang dihuni banyak keluarga dengan anak balita, termasuk bayi berusia sekitar 6 bulan hingga 2 tahun.
Selain berdampingan dengan permukiman, lokasi TPA juga berada dekat dengan SD Pakulonan 1, bangunan lantai dua sekolah tersebut terlihat berada tidak jauh dari area tumpukan sampah.
ondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terkait kenyamanan dan kesehatan para siswa yang beraktivitas setiap hari di sekolah.
Warga juga khawatir keberadaan TPA sementara tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan.
Karena lokasi penampungan sampah berada di tengah kawasan permukiman padat penduduk yang dihuni banyak keluarga, termasuk anak-anak dan balita yang dinilai lebih rentan terhadap dampak pencemaran lingkungan.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera mencari solusi agar persoalan sampah di wilayah Pakulonan tidak semakin berdampak terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat sekitar.
(Penulis: Najwa Rizkiana – Prodi Jurnalistik – Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi)


