TANGSELIFE.COM- Selebgram Ruce Nuenda akhirnya buka suara setelah menuai kritis karena tetap beraktivitas di luar rumah saat sedang sakit campak.
Aksinya yang sempat terekam dan beredar di media sosial memicu teguran dari warganet.
Melalui Instagran Story, Ruce Nuenda menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Ia mengaku keputusannnya untuk keluar rumah dinilai kurang tepat, terlebih di tengah meningkatnya kasus campak di Indonesia.
βTeman-teman, saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besaranya apabila tindakan saya tadi kurang tepat,β tulisanya dalam pernyataan yang diunggah Rabu (4/3/2026).
Ruce menjelaskan bahwa dirinya telah memeriksakan kondisi kesehatannya ke UNit Gawat Darurat (UGD).
Ia bahkan sempat meminta untuk menjalani rawat inap.
Namun berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, kondisinya dinilai masih bisa ditangani dengan perawatan mandiri di rumah.
Menurut Ruce Nuenda, dokter hanya menyarankan istirahat, konsumsi obat, penggunaan salep, serta menjaga jarak dari anaknya di rumah untuk mencegah penularan.
Ia juga mengaku baru sepenuhnya memahami pentingnya isolasi mandiri setelah mendapat banyak teguran dari publik.
βSaya menyadari bahwa seharusnya saya tidak keluar rumah, bahkan untuk olahraga sekalipun. Jujur, saya baru memahami sepenuhnya setelah mendapat teguran dari teman-teman semua,β lanjutnya.
Ruce menambahkan, situasi yang membesar ini menjadi pelajaran berharga agar dirinya lebih bijak dan bertanggung jawab ke depan.
Lonjakan Kasus Campak 2026 Jadi Sorotan Usai Aksi Selebgram Ruce Neanda
Kasus yang menimpa Ruce terjadi di tengah tren peningkatan campak secara nasional.
Pelaksana Tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Andi Saguni, mengungkapkan bahwa jumlah suspek campak mengalami kenaikan signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Pada Januari 2024 tercatat sekitar 2.000 kasus.
Angka itu melonjak menjadi 5.000 kasus pada Januari 2025, dan kembali meningkat menjadi 7.060 kasus pada Januari 2026.
βMemang terjadi kenaikan jumlah kasus, dan secara year on year Januari 2026 lebih tinggi,β ujar Andi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Meski demikian, hingga 23 Februari 2026 tercatat 1.164 kasus dan diharapkan tidak mengalami lonjakan tajam hingga akhir bulan.
Sepanjang 2025, tercatat 116 kejadian luar biasa (KLB) campak di 89 kabupaten/kota yang tersebar di 16 provinsi.
Totalnya mencapai 63.760 kasus suspek dengan 69 kematian atau case fatality rate (CFR) sebesar 0,1 persen.
Lima provinsi dengan KLB terbanyak tahun lalu adalah Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Memasuki 2026, hingga minggu ke-7 dilaporkan 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta 4 kematian dengan CFR 0,05 persen.
Artinya, secara tingkat fatalitas kondisi tahun ini dinilai lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Adapun lima provinsi dengan KLB terbanyak pada 2026 meliputi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
