TANGSELIFE.COM – Sampai minggu ke-18 tahun 2024, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat adanya peningkatan jumlah kasus demam berdarah atau DBD.

Di wilayah Tangerang Raya khususnya, kasus DBD paling banyak terjadi di Kabupaten Tangerang dengan 2540 kasus.

Angka tersebut menempatkan Kabupaten Tangerang pada posisi kedua se-Indonesia setelah Kota Bandung dengan jumlah 3468 kasus DBD.

Selanjutnya di urutan ketiga ada Kota Bogor dengan jumlah 1942 kasus, disusul Kabupaten Bandung Barat sebanyak 1903 kasus, dan Kota Kendari sebanyak 1659 kasus.

Kasus DBD Tertinggi di Tangerang Raya

Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang membenarkan adanya lonjakan kasus DBD yang dimulai sejak awal Januari 2024.

Faktor terjadinya lonjakan kasus antara lain akibat cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Tangerang.

“Pada periode awal tahun 2024 terjadi peningkatan kasus DBD di wilayah Kabupaten Tangerang yang salah satu faktor penyebabnya adalah perubahan iklim dan curah hujan yang cukup tinggi.”

“Ini mendukung proses perkembangbiakan Aedes aegypti sebagai faktor DBD,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, Ahmad Muchlis.

Selain cuaca ekstrem, faktor lainnya yakni pola hidup masyarakat yang kurang cermat memperhatikan kebersihan penampungan air di rumah maupun di sekolah.

Masyarakat terbiasa menampung air hujan, tetapi tidak menutup rapat tampungan tersebut, sehingga membuat nyamuk berkembang biak dengan pesat.

“Kebiasaan perilaku masyarakat yang menampung air hujan yang tidak dilakukan pemantauan serta sulitnya menumbuhkan kepedulian dan kemauan masyarakat untuk rutin memantau jentik di lingkungan rumah masing-masing.”

“Sehingga menjadi tempat dan berkembang-biaknya faktor DBD di masyarakat,” terang Achmad Muchlis.

Sementara itu, Dinkes Kota Tangerang Selatan (Tangsel), mencatat ada sebanyak 461 kasus DBD di wilayah Tangsel hingga tanggal 11 Mei 2024.

“Kota Tangerang Selatan dari 1 Januari sampai dengan 11 Mei 2024 berjumlah 461 kasus,” kata Kepala Dinkes Tangsel, Ain Hendalin Mahdaniar, Senin, 13 Mei 2024.

Menurut Alin, jumlah kasus DBD di Tangsel mengalami kenaikan secara fluktuatif setiap bulannya.

Pada bulan Januari tercatat 70 kasus, Februari 131 kasus, Maret 167 kasus, April 71 kasus, dan pada minggu kedua bulan Mei ada 22 kasus.

Kendati demikian, Alin memastikan bahwa kasus DBD di Tangsel tidak disertai adanya kematian akibat penyakit tersebut.

“Tidak ada kematian. Umumnya kasus-kasus penyakit ini dapat diselamatkan,” tandas Alin.

“Cara yang dapat dilakukan saat ini dengan menghindari atau mencegah gigitan nyamuk penular DBD,” pungkasnya.