TANGSELIFE.COM – Sebanyak 457 pengunjung memadati Kopiluvium Pamulang dalam gelaran Markas Warga PATS yang diselenggarakan oleh Anti Rebahan Project (ARP) bersama Soeara Warga pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB, kegiatan tersebut menghadirkan berbagai aktivitas yang menggabungkan olahraga, hiburan, dan kebersamaan.
Antusiasme pengunjung terlihat sejak sore hingga acara berakhir pada malam hari.
Fun Run, BBQ, hingga DJ Performance Ramaikan Acara
Rangkaian acara Markas Warga PATS diawali dengan sesi fun run sejauh 3 kilometer yang diikuti para peserta pada sore hari. Setelah berolahraga bersama, pengunjung diajak menikmati sesi BBQ bersama.
Malam harinya, Penampilan live DJ sukses menghidupkan acara dan membuat pengunjung tetap bertahan hingga akhir kegiatan.
Perpaduan olahraga, kuliner, dan hiburan menjadi daya tarik tersendiri yang membuat acara ini ramai dikunjungi.
Kolaborasi ARP dan Soeara Warga Dorong Ruang Kreatif Anak Muda
Melalui Markas Warga PATS, ARP dan Soeara Warga ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membuka ruang kolaborasi bagi generasi muda.
Founder Soeara Warga sekaligus Co-Founder Kopiluvium Pamulang, Labib Fadilah Mutaqin, mengapresiasi kreativitas mahasiswa yang terlibat dalam penyelenggaraan acara tersebut.
“Effort dan kreativitas anak-anak kampus di event ini patut diapresiasi. Kolaborasi antara dunia kreatif dan industri F&B terasa sangat selaras, menghadirkan musik, suasana, dan pengalaman yang menyatu dengan baik. Ruang seperti coffee shop juga dapat berkembang menjadi wadah yang mendorong tumbuhnya kreativitas generasi muda,” ujarnya.
Menurutnya, ruang seperti coffee shop kini tidak hanya menjadi tempat nongkrong, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang kreatif yang mempertemukan berbagai komunitas dan ide baru.
ARP dan Soeara Warga berharap kolaborasi serupa dapat terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk membangun ekosistem kreatif yang inklusif, inovatif, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat dan komunitas lokal.
(Penulis: Najwa Rizkiana – Prodi Jurnalistik – Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi)
