TANGSELIFE.COM- Tesla sebagai produsen mobil listrik asal Amerika Serikat resmi menghentikan sistem bantuan pengemudi Autopilot sebagai fitur standar pada kendaraan barunya.

Keputusan ini bukan sekadar pembaruan teknis, melainkan bagian dari strategi besar pihaknya untuk mengarahkan konsumen ke teknologi yang lebih ambisius, Full Self Driving (FSD).

Langkah tersebut muncul di tengah sorotan tajam regulator California, pasar terbesar Tesla di Amerika Serikat.

Otoritas setempat menilai Tesla selama bertahun-tahun telah melakukan praktik pemasaran yang dinilai menyesatkan, terutama terkait klaim kemampuan Autopilot dan FSD.

Tesla Berhentikan Penggunaan Nama Autopilot

Tekanan itu berujung pada putusan pengadilan California yang menyatakan Tesla melanggar aturan pemasaran. Imbasnya tak main-main.

Tesla terancam penangguhan izin manufaktur dan dealer selama 30 hari. Menyusul putusan tersebut, Departemen Kendaraan Bermotor California memberi tenggat waktu 60 hari bagi Tesla untuk mematuhi keputusan, termasuk menghentikan penggunaan nama Autopilot.

Sebelumnya, Autopilot dikenal sebagai paket fitur bantuan mengemudi yang mencakup Traffic Aware Cruise Control dan Autosteer.

Sistem ini dirancang untuk menjaga kecepatan, jarak aman, sekaligus membantu kendaraan tetap berada di jalur. Namun kini, berdasarkan laman konfigurasi resmi Tesla, kendaraan baru hanya dibekali Traffic Aware Cruise Control sebagai fitur bawaan. Autosteer tak lagi termasuk di dalamnya.

Hingga kini, Tesla belum memberikan kejelasan apakah perubahan ini juga akan berdampak pada pelanggan lama yang telah lebih dulu menggunakan Autopilot.

Penghentian Autopilot sebagai fitur standar berjalan seiring dengan perubahan besar pada skema penjualan Full Self Driving.

Mulai 14 Februari mendatang, Tesla tidak lagi menawarkan FSD melalui pembelian satu kali senilai US$ 8.000. Akses ke fitur tersebut kini hanya tersedia lewat sistem berlangganan bulanan dengan tarif US$ 99.

CEO Tesla, Elon Musk, bahkan mengisyaratkan harga langganan FSD bisa terus naik seiring meningkatnya kemampuan perangkat lunak. Ia tetap optimistis bahwa kendaraan Tesla generasi terbaru akan mampu mengemudi secara otonom tanpa pengawasan manusia. Namun, klaim tersebut hingga kini masih berbenturan dengan aturan lalu lintas di sebagian besar negara bagian Amerika Serikat.

Di sisi lain, Tesla telah mulai menguji konsep masa depan itu lewat pengoperasian robotaxi Model Y di Austin, Texas. Kendaraan tersebut beroperasi tanpa petugas keselamatan di dalam kabin, meski tetap diawasi oleh unit Tesla lain dan menggunakan versi perangkat lunak yang lebih canggih.

Meski FSD versi beta telah diluncurkan sejak akhir 2020, tingkat adopsinya masih tergolong rendah. Pada Oktober 2025, Chief Financial Officer Tesla, Vaibhav Taneja, mengungkapkan hanya sekitar 12 persen pelanggan yang bersedia membayar untuk fitur Full Self Driving.

Autopilot sendiri pertama kali diperkenalkan pada awal 2010-an dan resmi menjadi fitur standar sejak April 2019. Namun selama lebih dari satu dekade, Tesla kerap menuai kritik karena dinilai kurang transparan dalam mengomunikasikan keterbatasan sistem tersebut.

Catatan National Highway Traffic Safety Administration menunjukkan bahwa kesalahpahaman terhadap kemampuan Autopilot telah berkontribusi pada ratusan kecelakaan lalu lintas, dengan sedikitnya 13 korban jiwa di Amerika Serikat. Fakta inilah yang kini menjadi salah satu alasan utama mengapa Tesla harus mengubah arah strategi teknologinya.

Dapatkan Berita Terbaru lainya dengan Mengikuti Google News Tangselife
sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Tangselife
Follow
Nadia Lisa Rahman
Editor
Nadia Lisa Rahman
Reporter