TANGSELIFE.COM – Aksi mendukung kemerdekaan Palestina dilakukan oleh ratusan warga di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang pada Sabtu, 11 Mei 2024.

Aksi dukungan kemerdekaan Palestina tersebut dilakukan melalui long march sejauh 10 kilometer bertajuk ‘The Intifada March’.

Peserta aksi, yang terdiri dari warga lokal Jepang dan warga asing, berjalan kaki sekitar 10 kilometer dengan melintasi pusat-pusat wisata dan perbelanjaan populer seperti Shibuya Crossing dan Omotesando.

Mereka berjalan sembari meneriakkan ‘Free-Free Palestine!’, ‘Birruh, biddam, nafdika ya Palestine’ (Dengan jiwa kami, dengan arah kami, kami akan menebusmu, Palestina).

Mereka pun menyeru masyarakat memboikot produk-produk yang jelas-jelas mendukung atau terafiliasi dengan Israel, terutama saat melintasi gerai-gerai yang menjajakan produk tersebut.

Aksi yang dikawal ketat oleh kepolisian Jepang tersebut seketika mengundang perhatian para turis.

Tak sedikit turis yang merekam aksi tersebut hingga bergabung mengikuti long march.

Long March Dukung Kemerdekaan Palestina Diawali Orasi Warga Asli Gaza

Sebelumnya, aksi long march diawali oleh orasi di Jingu Dori Park yang disampaikan oleh seorang wanita warga asli Gaza yang tinggal di Jepang.

“Saya lahir pada 1987, yang ternyata bertepatan dengan intifada pertama dan mengapa mars ini dinamakan Intifada March,” ujarnya seperti dikutip dari Republika.

Dalam orasinya, warga asli Gaza tersebut menegaskan bahwa aksi long march sejauh 10 km dilakukan demi meningkatkan kesadaran masyarakat akan kekejian yang dilakukan Israel.

“Masa-masa untuk mengedukasi orang tentang apa yang terjadi di Gaza sudah lewat.”

“Waktu untuk menunjukkan kemarahan adalah sekarang, waktu untuk berdiri adalah sekarang, waktu untuk berteriak adalah sekarang, waktu untuk membayar itu semua adalah sekarang, waktu untuk balas dendam adalah sekarang, waktu untuk intifada adalah sekarang,” ucapnya.

Ia pun melontarkan kritik pedas terhadap warga dunia yang hanya menonton, sementara mayat bergelimpangan setiap hari di Palestina.

“Tidakkah kah kita malu sebagai umat manusia menyaksikan semua ini terjadi, melihat jasad di mana-mana, wanita dibuka hijabnya. Apa yang kau telah lakukan untuk Palestina,” ujarnya lagi.

Long March Dukung Kemerdekaan Palestina Tak Hanya Diikuti Muslim

Peserta long march yang tak lelah menyuarakan kemerdekaan Palestina terdiri dari berbagai latar belakang, suku, ras dan agama.

Warga Jepang yang ikut dalam aksi, Ellie, menilai long march sebagai sarana yang efektif untuk membangun kesadaran dan membuat orang paham tentang apa yang terjadi di Palestina.

Ia mengecam genosida yang dilakukan Israel di tanah suci bagi tiga agama tersebut, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi.

“Tak seharusnya orang itu berpendapat masalah ini rumit, genosida itu tidak sepatutnya terjadi, bahkan sebelum 7 Oktober.”

“Saya berharap orang-orang mempelajari sejarah mengapa ini terjadi. Ini harus dihentikan dan harus gencatan senjata,” ujar Ellie.

“Kalau Anda punya kemanusiaan, Anda seharusnya membela Palestina,” kata Ellie.

Sementara itu, peserta aksi yang merupakan warga Amerika Serikat, Rachel, ingin menunjukkan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina, meski hanya sedikit yang bisa ia lakukan.

“Buat saya (genosida) ini gila dan masih terjadi sampai sekarang. Ini tentu memberikan pencerahan kepada saya sebagai warga Amerika yang tidak tahu banyak tentang konflik ini.”

“Sungguh memalukan sejak 7 Oktober tidak banyak pengetahuan tentang itu untuk untuk mengedukasi warga,” ujarnya.

Adapun warga Indonesia diketahui turut hadir dalam ‘The Intifada March’, salah satunya bernama Wais Alkindy.

“Benar-benar dari kami yang tidak bisa berbuat apa-apa, ya selain mendoakan tentunya.”

“Dan aksi nyata ini membantu menyebarkan informasi-informasi, menumbuhkan kesadaran orang-orang Jepang banyak sekali dan yang non-Muslim juga banyak bergabung di sini,” kata Wais.