TANGSELIFE.COM – Pihak militer Iran mulai melakukan penyelidikan untuk mencari tahu kecelakaan helikopter Presiden Iran Ebrahim Raisi.

Helikopter tersebut ia tumpangi bersama dengan beberapa pejabat, termasuk Menteri Luar Negeri Hossein Amir Abdollahian.

Kecelakaan helikopter di kota Tabriz dengan ketinggian sekitar 100 kilometer telah menewaskan presiden Iran Ebrahim Raisi.

Insiden ini terjadi pada Minggu, 19 Mei 2024 waktu setempat. Bahkan sebelum menaiki helikopter, Raisi sempat memberikan pernyataan ke media sosial.

Faktor Kecelakaan Helikopter Presiden Iran

Pakar penerbangan dan mantan pilot helikopter, Paul Beaver, mengatakan cuaca buruk berperan besar dalam kecelakaan tersebut.

Cuaca saat itu, dengan kabut, serta suhu rendah, dikatakan berkontribusi terhadap tumbangnya helikopter yang dinaiki Raisi dan rekan-rekannya.

Secara umum, kecelakaan helikopter memiliki reputasi yang lebih berbahaya ketimbang pesawat.

Pilot Institute mencatat bahwa helikopter lebih sering mengalami kecelakaan, tetapi perbandingannya kecil dibandingkan kecelakaan pesawat.

Paul Beaver, menjelaskan humar error atau kesalahan manusia menjadi penyebab paling umum kecelakaan helikopter terjadi.

Kesalahan tersebut tak cuma berasal dari pilot yang mengendalikan pesawat.

“Kesalahan juga bisa terjadi dari tim pengontrol trafik udara dan tim yang melakukan perawatan unit helikopter,” ungkapnya.

Disebutkan juga, sebanyak 50 persen kecelakaan penerbangan ditengarai kesalahan pilot.

Disebutkan juga ada beberapa hal untuk menghindari kesalahan ini.

Misalnya, memastikan pilot mengendarai helikopter dengan kondisi fisik yang prima, tidak berada dalam tekanan, sehingga bisa mengoperasikan sistem penerbangan yang rumit.

“Ada banyak alasan kenapa kesalahan pilot lebih sering ditemui pada helikopter ketimbang pesawat. Sebab, kebanyakan helikopter memerlukan pengendalian sistem yang lebih banyak oleh pilot ketimbang pesawat,” ungkapnya.

Bahkan masalah teknis pada helikopter bisa menyebabkan hal fatal. Jika ada kerusakan pada bilah rotor utama, atau pilot kehilangan kemampuan mengendalikan putaran atau pitch helikopter, hal ini dapat mengakibatkan hilangnya kendali.

Masalah ini sangat sulit ditangani dan kemungkinan besar akan mengakibatkan kecelakaan.

Rotor utama bersifat sangat rentan karena kemampuan unik helikopter untuk dapat melayang dan terbang pada ketinggian yang jauh lebih rendah daripada pesawat.

Helikopter dapat mengudara di dekat lingkungan yang banyak rintangan.

Jika salah satu hambatan ini mengenai rotor utama, hal ini dapat menyebabkan kerusakan dan hilangnya kendali bagi pilot.

Hambatan tersebut dapat berupa pepohonan, menara radio dan telepon seluler, benturan kabel, dan bahkan gunung atau bangunan.

Selain rotor utama, ada juga rotor ekor yang dirancang untuk mencegah helikopter berputar berlawanan arah dengan bilah rotor utama.

Sehingga ketika seorang pilot kehilangan kendali atas rotor ekor, hal ini dapat mengakibatkan hilangnya kendali helikopter sepenuhnya.

Selain masalah pada rotor, kesalahan sistem atau komponen di helikopter juga bisa menyebabkan kecelakaan.

Salah satunya jika terjadi masalah pada gearbox yang berfungsi menyalurkan tenaga atau daya mesin ke bagian mesin lainnya.

Hal lain yang benar-benar di luar kontrol manusia adalah masalah lingkungan, misalnya cuaca yang tiba-tiba buruk dan membuat helikopter susah dikendalikan.

Hal lainnya misalnya terjadi tabrakan dengan burung, atau objek-objek lainnya di udara.

Menerbangkan helikopter pada kondisi salju, hujan, berlumpur, atau kondisi tak normal lainnya, menyebabkan helikopter susah dikendalikan dan kecelakaan pun bisa terjadi.

 

Sopiyan
Editor