TANGSELIFE.COM – Kisah inspiratif seorang penjual pempek bernama Bang Jabo belakangan ini sedang menjadi sorotan di jagat maya.

Setiap harinya Bang Jabo gratiskan dagangan untuk anak yatim dan kaum dhuafa.

Awal mula keberadaan sang pedagang pempek ini diabadikan oleh seorang TikTokers bernama Donny Ramadhan.

Ia turut menanyakan alasan mengapa Bang Jabo menggratiskan seluruh dagangannya untuk yatim dan dhuafa.

“Saya dulu juga gelandangan yang susah hidupnya di Jakarta. Alhamdulillah sekarang saya sudah jualan. Balas budi orang-orang yang pernah baik sama saya,” jelas Bang Jabo.

Atas keputusannya itu, pedagang pempek tersebut yakin bahwa ia tak akan pernah rugi.

“InsyaAllah, Allah itu ada, nggak bakalan orang rugi lah ya namanya orang usaha mah ada aja. Selama ini saya nggak pernah rugi, ada aja rezeki mah Alhamdulillah,” tuturnya.

Sehari-harinya ia membawa 200 pempek untuk dijual, akan tetapi beberapa buah pempek ia berikan secara sukarela kepada yatim dan dhuafa.

Gerobak yang bertuliskan ‘Gratis Setiap Hari untuk Anak Yatim Piatu dan Dhuafa’ itu sempat menarik perhatian artis yang melintas.

Bang Jabo menceritakan bahwa dagangannya itu sempat dibeli oleh penyanyi BCL, “Pernah dimakan sama artis, Bunga katanya orang-orang. Saya kan nggak pernah nonton TV nggak punya HP.”

Bang Jabo akui bahwa ia selalu ikhlas berjualan pempek sambil berbagi.

Menurutnya, kejujuran dan keikhlasan adalah kunci yang paling utama.

Kemudian Bang Donny juga menegaskan bahwa berbagi itu tak harus menunggu kaya, karena pada dasarnya berbagi bisa dilakukan kapan saja.

“Berbagi itu nggak nunggu kaya, berbagi itu kapan aja bisa,” pungkasnya.

Bang Jabo Akui Pernah Hidup Susah

Aksi mulia Bang Jabo sangat menginspirasi para warganet, tak jarang mereka penasaran mengenai latar belakang sang pedagang pempek di kawasan Kebayoran Lama tersebut.

Ia diketahui pernah hidup susah, bahkan untuk makan sehari-hari harus mencuri terlebih dahulu.

Menyusuri jalanan sambil berjualan adalah keputusan yang ia ambil selama lima tahun lebih.

Usianya yang sudah dewasa mengharuskan Bang Jabo mencari uang sendiri karena tak ingin merepotkan orang tua.

Ia juga ingin memberikan contoh kepada adik-adiknya untuk mencari uang sendiri ketika beranjak dewasa.

Laki-laki kelahiran 31 Maret 1981 ini sempat melamar pekerjaan berbekal ijazah SMA, akan tetapi tak kunjung mendapatkannya.

Ia pun terus berjuang mendapatkan pekerjaan sampai akhirnya ijazah SD sampai SMA-nya hilang karena banjir.

Kondisi tersebut membuatnya kebingungan untuk melamar kerja, akhirnya ia mencari kerja sendiri dengan kemampuan dan kebiasaan yang ia punya dengan cara berjualan pempek.

Bang Jabo Pernah Mati Suri 40 Hari

Bang Jabo Pedagang Pempek

Dulu hidup Bang Jabo kerap berpindah-pindah tempat sejak SD sampai SMA karena pekerjaan orang tua.

Mulai dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, hingga kembali ke Ibu Kota.

Mendiang ayahnya adalah seorang wiraswasta, sementara mamanya pernah bekerja di apotek.

“Waktu sekolah di Jogja dulu, saya sempat kecelakaan, mati suri. Sudah dikubur 40 hari, alhamdulillah Allah masih sayang, masih cinta sama saya. Saya dikasih kehidupan kembali biar bisa hidup dan berbakti kepada orang tua sampai sekarang,” katanya.

Selama hidup di jalanan, apapun ia lakukan untuk bertahan hidup.

Bahkan ia terjerumus ke dunia hitam, kelam, hidup nggak jelas hingga dirinya menjadi perbincangan warga sekitar.

“Waktu masih ada keributan dulu di Kebayoran Lama, waktu Madura sama Betawi pada bunuh-bunuhan, itu saya sampai masuk TV, saya sampai malu. Kalau nengok ke belakang sedih saya,” ujarnya.

Sampai akhirnya pada 2018 ia bertemu dengan sosok bernama Pak Panji.

Beliau adalah sosok yang menawarkan Bang Jabo untuk berjualan, daripada menjalani hidup yang tak jelas.

Bang Jabo sempat heran dengan kebaikan Pak Panji yang nampak tulus membantunya, bahkan Pak Panji tak takut apabila gerobaknya dijual kemudian diambil.

Setiap harinya Bang Jabo berjualan pempek seharga Rp2.000 per buah dan mengambil keuntungan Rp700 perak.

Tulisan mengenai informasi pempek gratis untuk anak yatim piatu dan kaum dhuafa sudah ia tempel sejak 3 tahun lalu tanpa sepengetahuan pihak pabrik.

Adapun nama Jabo sendiri merupakan singkatan dari ‘Jarang Bohong’ yang kerap dilontarkan oleh teman-teman sejawatnya.

Nama aslinya adalah Asmo Priambodo Hermawan Trimurti Yoso alias Wawan.

Teman-teman Bang Jabo menuturkan kalau ia adalah sosok yang jarang bohong, apa adanya, dan ceplas ceplos.

“Ya habis kalau bohong juga buat apa. Mendingan saya jujur. Menjadi orang jujur itu mudah, menjadi orang jujur itu baik, dan menjadi orang jujur itu mulia,” pungkasnya.